Global Waste Management Outlook

Judul Asli : Global Waste Management Outlook Penerbit    : ISWA dan UNEP Tahun        : 2015 Tebal          : 331 halaman Populasi saat ini di dunia telah mencapai 7.3 miliar. Di akhir abad 21, jumlahnya diproyeksikan mencapai 9 hingga 11 miliar, dimana sejumlah 3 miliar diantaranya adalah populasi kelas menengah yang konsumtif, menambah rentan resiko beban waste yang dihasilkannya serta tergerusnya sumber daya alam planet ini. Global Waste Management Outlook (GWMO) merupakan hasil kolaborasi International Solid Waste Association (ISWA) dan United Nations Environmental Program (UNEP), yang berisi kajian yang komprehensif, imparsial, dan mendalam tentang waste management di dunia, merefleksikan gabungan pengetahuan ilmiah terkini, dari pengalaman para ahli ternama dan berbagai penelitian yang dilakukan, baik oleh United Nations maupun oleh pihak lainnya. Global Waste Management Outlook terdiri dari 6 bagian, yang meninformasikan tren, memberikan analisis terhadap governance dan mekanisme finansial, serta rekomendasi kebijakan ke depan. Dokumen utama mentargetkan profesional, sementara dua dokumen rangkuman ditargetkan untuk pengambil keputusan dan public secara luas. Link: Global Waste Management Outlook

Teknologi Alternatif Untuk Konversi Energi Dari Sampah

Judul Asli : Alternative Waste Conversion Technology Penerbit    : ISWA Tahun        : 2013 Tebal          : 44 halaman Teknologi thermal konversi sampah menjadi energi memang belum diterapkan di Indonesia hingga saat ini. Namun beberapa kota seperti Jakarta, Bandung dan Batam sudah menempuh proses menuju implementasi instalasi tersebut. Kebijakan feed in tariff dari pemerintah pun sudah kondusif, melalui Peraturan Menteri ESDM No. 19/2013 mengenai harga listrik yang berasal dari sampah perkotaan. Para pengambil keputusan, baik di tingkat daerah maupun pusat semakin intens mendapatkan tawaran teknologi dengan berbagai klaim yang menjanjikan, mulai dari efisiensi energi yang lebih tinggi, instalasi yang lebih ramah lingkungan, dlsb. Seringkali kecanggihan teknologi yang ditawarkan tidak disertai dengan data yang cukup untuk melihat perbandingan terhadap teknologi yang comparable dan skala implementasinya. Faktanya, di seluruh dunia, saat ini terdapat sekitar 2,000 (dua ribu) instalasi konvensional EfW dengan teknologi insinerasi telah dibangun, dengan kapasitas lebih dari 100 juta ton sampah perkotaan per tahun. Seluruh instalasi yang beroperasi saat ini sudah dilengkapi dengan peralatan flue gas cleaning (pembersihan gas buang) yang memadai, dan kontrol pembakaran yang canggih sehingga dengan mudah memenuhi kebutuhan standar emisi yang sangat ketat. Dokumen ini termasuk dalam ISWA White Paper yang disusun oleh ISWA Working Group on Energy Recovery untuk memberikan pandangan bagi pengambil keputusan yang mempertimbangkan untuk berinvestasi pada teknologi thermal alternatif untuk mengkonversi sampah menjadi energy atau EfW (Energy from Waste). Teknologi alternatif yang dimaksud dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu gasifikasi, plasma gasifikasi, dan pirolisis. Sedangkan teknologi konvensional yang dimaksud mengacu pada insinerasi/pembakaran. Tinjauan yang dipaparkan dalam White Paper ini adalah sbb: inter-relasi antara sistem pembakaran EfW konvensional dengan teknologi alternatif, batasan sistem yang harus diperhatikan dalam mengkaji proposal instalasi EfW, informasi yang dibutuhkan untuk membandingkan berbagai teknologi secara objektif, resiko teknologi terkait efeknya terhadap pendapatan, pengalaman operasional dari instalasi berbasis teknologi alternatif, dan perbedaan-perbedaan dalam batasan operasional. Definisi singkat gasifikasi adalah penghancuran sampah secara thermal dalam kondisi minim oksigen, yang menghasilkan syngas (contoh pada konversi char menjadi gas kota). Sedangkan plasma gasifikasi adalah pengolahan sampah melalui intensitas electron yang sangat tinggi, dengan temperature mencapai  > 2,000°C. Dalam plasma tersebut, dihasilkan vitrified slag dan syngas. Pyrolysis adalah penghancuran sampah secara thermal dalam kondisi hampa udara, menghasilkan arang, pyrolysis oil dan syngas (contoh pada konversi kayu menjadi arang). Sedangkan insinerasi/pembakaran adalah penghancuran sampah secara thermal dengan suplai udara yang cukup, menghasilkan flue gas (CO2, O2, N2, water vapor) dan panas. Definisi diatas dan inter-relasi dari sistem pengolahan sampah dielaborasi lebih lanjut di dokumen ini. Inter-relasi ini penting agar analisa terhadap teknologi thermal tidak parsial, dengan material input-output dan energy input-output yang dapat dibandingkan. Bagian lain dalam dokumen ini mendiskusikan secara ringkas rantai nilai (value chain) suatu proyek energi dari sampah atau EfW, khususnya kelayakan dari aspek finansial. Variabel seperti harga listrik, gate fee, biaya utilitas dan komponen-komponen didalamnya perlu dipertimbangkan dengan cermat agar diperoleh output energi dan kapasitas pengolahan sampah yang optimal. Akurasi perkiraan biaya inilah yang lebih sulit diperoleh untuk teknologi alternatif, sehingga terdapat resiko yang lebih tinggi dibandingkan investasi pada teknologi konvensional. Panduan umum untuk menilai teknologi konversi energi dari sampah dijelaskan dengan baik dan sistematis pada dokumen ini. Pada aspek teknis, yang perlu diperhatikan adalah: (1) pengalaman operasional pada skala operasi yang diharapkan, (2) ketersediaan dan kehandalan teknologi tersebut, (3) fleksibilitas bahan bakar, (4) neraca massa dan neraca energi, (5) pemenuhan persyaratan lingkungan, dan (6) produksi energi. Sedangkan untuk aspek ekonomi, yang utama adalah membandingkan hal berikut: (1) total biaya investasi, (2) biaya operasional/eksploitasi, dan (3) pendapatan. Proven technology (teknologi yang terbukti) dan proven reliability (kehandalan yang terbukti) menjadi pertimbangan utama dalam panduan tersebut. Proven technology artinya bahwa teknologi tersebut telah menunjukkan pemenuhan kriteria selama bertahun-tahun masa operasi, dengan satu atau lebih instalasi yang dapat dibandingkan baik dari segi skala, input, dan outputnya. Sedangkan proven reliability sangat berpengaruh untuk memprediksi apakah investasi terhadap instalasi dapat memberikan hasil yang positif. Detail daftar pertanyaan yang perlu dijawab pada proses evaluasi terhadap penawaran teknologi ditampilkan pada bagian lampiran dokumen ini. Proses konversi sampah secara thermal yang lengkap terdiri atas rangkaian pyrolysis, gasifikasi dan/atau tahap pembakaran. Dalam metoda konvensional EfW, ketiga tahap tersebut terintegrasi, sedangkan dalam teknologi alternatif, produk antara dihasilkan dan tahap pembakaran dilakukan selanjutnya. Penjelasan tentang sistem konversi energi dengan teknologi alternatif didiskusikan pada bagian dalam dokumen ini. Untuk setiap sistem alternatif, dokumen ini mendiskusikan definisi, aspek teknis, klaim keunggulan teknologi, neraca energi, pengalaman, informasi yang tersedia, dan resiko yang terkait dengan teknologi tersebut. Beberapa brand proses dan supplier untuk teknologi alternatif juga ditampilkan di bagian ini. Untuk pyrolysis, terdapat 8 nama proses/supplier internasional yang diidentifikasi. Total di seluruh dunia terdapat 25 instalasi yang beroperasi, dengan kapasitas kurang dari 1 juta ton per tahun. Mayoritas instalasi ini berada di Jepang. Sedangkan gasifikasi, sudah terdapat 6 proses/suplier untuk kelompok true gasification dan 10 proses/supplier untuk staged gasification. Total di seluruh dunia terdapat 100 instalasi yang beroperasi, dengan kapasitas sekitar 2.5 juta ton per tahun. Mayoritas instalasi juga berada di Jepang. Adapun plasma gasifikasi saat ini sudah dilakukan oleh 7 proses/supplier. Total di seluruh dunia terdapat 15 instalasi yang beroperasi, mayoritas berada di Jepang, dan sebagian lain instalasi uji coba di Eropa dan Amerika Serikat. Total kapasitas sekitar 300 ribu ton per tahun. Sebagai referensi dan pembanding, dokumen ini juga menjelaskan sistem konvensional teknologi thermal energi dari sampah yaitu grate combustion dan fluidized bed. Untuk jenis pertama, sudah terdapat 12 suplier di seluruh dunia, sedangkan untuk jenis kedua terdapat 5 suplier. Data terkait emisi udara dan efisiensi elektrikal dari beberapa perusahaan dan lokasi instalasi energi dari sampah juga dapat ditemui pada lampiran dokumen ini. Di bagian akhir, dokumen ini menampilkan karakter utama instalasi EfW di kawasan Eropa, Amerika Serikat, Jepang, China dan Korea Selatan. Karakter yang dimaksud termasuk standar emisi dan persyaratan lingkungan, nilai kalor, kapasitas instalasi, range biaya investasi dan gate fee di negara-negara tersebut. Di Eropa, gate fee berkisar antara EUR 25 – 100 per ton untuk instalasi EfW, dengan nilai investasi  EUR 400 – 1,000 per ton per tahun. Di Amerika Serikat, gate fee relative rendah

Biaya Energi Untuk Konsumsi Makanan

Biaya Energi Untuk Konsumsi Makanan

Judul Asli : Table for One: The Energy Cost to Feed One Person Penerbit    : INCPEN Tahun        : 2009 Tebal          : 28 halaman Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian Dr Jan Kooijman, seorang ahli dalam sistem suplai makanan di tahun 1995. Hal tersebut dinisiasikan oleh INCPEN untuk memahami kebutuhan material dan energi yang dibutuhkan dalam rantai suplai makanan, dan khususnya, bagaimana kebutuhan tersebut berbeda beda di setiap jenis makanan. Sumber informasi utama diperoleh dari UK government’s National Food Survey yang telah melakukan survey mengenai konsumsi makanan mingguan di rumah tangga sejak tahun 1940. Mengingat, telah banyak perubahan yang dilakukan di dunia tetapi pola makan kita tidak banyak berubah. Rata – rata, manusia masih mengkonsumsi makanan 10 kali dari berat badannya dalam setahun. Sementara proporsi energi yang dibutuhkan untuk menyajikan makanan yang biasa dikonsumsi setiap minggunya pun tetap sama. Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah pemaparan jumlah penggunaan energi untuk pengadaan setiap 18 jenis makanan yang berbeda, mulai dari tahapan produksi makanan,  pengemasan, transport pengemasan, transport dari pabrik, ritel, perjalanan menuju toko, penyimpanan makanan di rumah, hingga proses penyajian makanan di rumah. Sehingga dapat terlihat, jenis serta proses suplai makanan yang menggunakan energi terbesar. Dengan demikian, kita dapat ikut berkontribusi dalam mengurangi dampak bagi perubahan iklim yang ternyata dapat kita lakukan melalui konsumsi makanan kita. Satuan energi yang digunakan dalam buku ini yaitu standar metrik MJ/orang/minggu. Dimana 1 MJ setara dengan bohlam lampu terbaru „energy saving“ 11 Watt yang nyala selama 24 jam tanpa henti atau setara dengan bohlam lampu konvensional 60 Watt yang dinyalakan selama 5 jam tanpa henti. Pada buku tersebut, juga memperlihatkan perbandingan konsumsi energi di UK  untuk pengadaan makanan (337 MJ/orang/minggu) dan pengemasan makanan (35 MJ/orang/minggu) yang bersumber dari buku Table for one ini, dengan penggunaan mobil berkecepatan rata rata mobil 50 km/hari (1010 MJ/orang/minggu), penerbangan pesawat jet rute penerbangan tahunan arus balik dari London menuju Cape Town (760 MJ/orang/minggu), pemanas ruangan (600 MJ/orang/minggu), penerangan (100 MJ/orang/minggu), serta koran, majalah, dan junk mail (50 MJ/orang/minggu) yang bersumber dari buku Sustainable Energy – without the hot air. Dimana, terlihat bahwa konsumsi energi untuk pengadaan makanan cukup besar, yakni menempati posisi ke empat setelah pemanas ruangan. Secara keseluruhan dari 18 jenis makanan yang diteliti, total konsumsi energi yang diperlukan dalam pengadaan makanan hingga siap dimakan, sebesar 50% energi (170 MJ/orang/minggu) digunakan untuk memproduksi makanan tersebut.  Hal tersebut berarti, dibutuhkan energi sebesar 170 MJ dalam memproduksi makanan untuk 1 orang dalam 1 minggu. Sementara sisa energi yang dikonsumsi, sebanyak 7% digunakan untuk pengemasan, 3% untuk transport kemasan, 4% untuk transport dari pabrik, 3% untuk ritel, 2% untuk perjalanan konsumen menuju toko, 17% untuk menyimpan makanan dirumah, dan 14% untuk proses penyajian makanan di rumah. Energi yang digunakan untuk produksi makanan, melindungi makanan agar tidak terkontaminasi dan tetap dalam kondisi yang baik (pengemasan), pendistribusian makanan, penyimpan, dan proses penyajian makanan, 5 kali lebih besar (337 MJ/orang/minggu) jika dibandingkan dengan nutrisi yang terkandung dalam makanan yang di konsumsi selama seminggu, yaitu sebesar 73 MJ/orang/minggu (14.000 kalori). Adapun 18 jenis makanan yang diteliti penggunaan energinya yaitu, roti, sereal, keju, telur, lemak/minyak, ikan, buah segar, buah yang diawetkan, kentang, daging/produk daging, susu/produk susu, minuman beralkohol, minuman bersoda, teh dan kopi, makanan ringan, gula, sayur segar, sayur lainnya. Jenis makanan yang pemenuhan akan kebutuhan energinya terbesar dalam rantai pengadaan makanan adalah daging/produk daging sebesar 104 MJ/minggu. Sedangkan energi yang didapatkan dari konsumsi daging dalam seminggu adalah 7 MJ/minggu. Daging memenuhi sebanyak 12% dari pemasukan kalori kita. Lebih dari setengah energi yang dikonsumsi pada rantai pengadaan daging/produk daging (63%), dipergunakan untuk memproduksi daging, yaitu beternak dan memproses daging tersebut. Kurang dari sepertiga energi tersebut dipergunakan dalam penyimpanan (14 %) dan proses penyajian daging di rumah (13%). Susu serta produk susu menempati posisi kedua terbesar setelah daging, yang memiliki pemenuhan energi yang tinggi dalam rantai pengadaan makanan, yakni sebesar 38 MJ/minggu. Sementara energi yang diperoleh dari konsumsi susu/produk susu  dalam seminggu adalah 4.4 MJ/minggu, dimana susu memenuhi sebanyak 8% dari asupan kalori yang kita butuhkan. Pada rantai pengadaan susu/produk susu, kebutuhan energi terbesar yaitu pada tahap penyimpanan di rumah (38%). Pemenuhan energi terbesar ketiga dalam pengadaan makanan adalah roti sebesar 24 MJ/minggu, dimana roti memenuhi sebanyak 16% dari pemasukan kalori kita. Energi yang diperoleh dari konsumsi roti dalam seminggu adalah 10 MJ/minggu. Sebesar 46% energi digunakan untuk memproduksi roti dan 38% dipergunakan pada tahap penyimpanan di rumah. Sementara penggunaan energi terkecil dalam pengadaan makanan yaitu gula sebesar 3.7 MJ/minggu dan makanan ringan sebanyak 4.3 MJ/minggu. Adapun energi yang didapatkan dari konsumsi gula dan makanan ringan selama seminggu adalah sebesar 3.8 MJ/minggu dan 6.8 MJ/minggu. Gula memenuhi sebanyak 6% dari asupan kalori yang dibutuhkan, sedangkan makanan ringan memenuhi sebesar 11% asupan kalori. Keduanya membutuhkan energi yang cukup besar pada tahap produksi makanan, gula sebesar 81% dan makanan ringan sebesar 70%. Selain itu, telur memerlukan energi sebesar 5 MJ/minggu dalam pengadaannya. Dari telur, energi yang kita dapatkan dalam mengkonsumsinya dalam seminggu yaitu 0.6 MJ/minggu atau setara dengan 150 kalori untuk 2 butir telur kecil. Telur memenuhi sebanyak 1% dari asupan kalori kita. Sebanyak 48% energi dalam pengadaan telur, diperlukan untuk proses produksi. Sepertiga energi tersebut dibutuhkan dalam proses penyajian (29%). Penelitian tersebut juga memaparkan serta membandingkan pola konsumsi atau kecenderungan pemilihan makanan yang dikonsumsi dari 18 jenis makanan tersebut, pada tahun 1994 dan tahun 2007. Jika dibandingkan secara umum terlihat bahwa 3 jenis makanan yang paling sering dikonsumsi pada ke dua tahun tersebut sebenarnya tidak berubah, yaitu minuman (teh/kopi/minuman beralkohol), susu/produk susu, dan sayuran. Namun, hanya jumlah yang dikonsumsinya mengalami sedikit perubahan. Seperti pada tahun 1994, susu merupakan produk yang paling banyak di konsumsi, sebesar 21% atau sebanyak 2.4 Kg/orang/minggu. Sedangkan pada tahun 2007, konsumsinya menurun menjadi 18% atau sebanyak 2.1 Kg/orang/minggu. Lain halnya dengan konsumsi minuman yang bertambah, dari 18% (2.1 Kg/orang/minggu) naik menjadi 21% (2.5 Kg/orang/minggu). Sementara, gula/lemak merupakan pilihan jenis makanan yang paling tidak banyak dikonsumsi dengan kecenderungan konsumsi yang menurun, yakni sebesar 4% atau sebanyak 0.5 Kg/orang/minggu di tahun 1994 kemudian menurun menjadi

Sampah Makanan Sebagai Isu Global – Perspektif Pengelolaan Sampah Kota

Judul Asli : Food Waste As A Global Issue – From the Perspective of Municipal Solid Waste Management Penerbit    : ISWA Tahun        : 2013 Tebal          : 30 halaman Setiap manusia pasti menghasilkan sampah, tak terkecuali sampah makanan. Seiring bertambahnya penduduk dunia, sampah makanan pun meningkat sedangkan sebaliknya, ketersediaannya semakin terbatas. Kata  sampah makanan atau “food waste” mengacu pada sampah makanan yang awalnya berasal dari bagian makanan yang memang ditujukan untuk dikonsumsi dan juga yang bukan (seperti kulit, akar dan biji), dan berasal dari perumahan, fasilitas komersil seperti restoran, kantin, kafe atau lainnya. Titik tolak diangkatnya sampah makanan sebagai isu global adalah timbulnya keprihatinan dan kekhawatiran akan ketidakseimbangan pada level produksi dan konsumsi makanan. Di satu sisi, masih banyak sebagian dari kita yang kekurangan makanan namun ironisnya di sisi lain juga banyak sebagian dari kita yang berkelimpahan makanan sehingga terbuang sia-sia. Beberapa data yang berhasil dihimpun pada tahun 2006-2011 cukup mencengangkan dimana data menunjukkan terdapat sekitar 1,32 milyar ton sampah makanan terbuang setiap tahunnya, namun sekitar 13% dari total populasi dunia yang kekurangan bahan makanan maupun kekurangan makanan untuk memenuhi standard pola hidup sehat. Khusus di Eropa, sepanjang tahun 2006, hasil penelitian menunjukkan setiap orang memproduksi sampah makanan sebanyak 179 kg. Ditambah lagi di Inggris, pada tahun 2008 50% sampah makanan dihasilkan pada level rumah tangga, dimana lebih dari separuh seharusnya masih bisa digunakan. Bayangkan! Sekarang pertanyaannya adalah, benarkah sampah makanan begitu mengkhawatirkan, terutama di negara berkembang, sehingga layak untuk menjadi isu global? Sampah makanan berpotensi menjadi kompos yang dapat menyuburkan tanaman.  Sampah makanan juga berpotensi menghasilkan bahan bakar terbarukan, sebagai pengganti minyak bumi yang pada saat ini ketersediaannya sudah pada ambang kritis. Namun karena karakter sampah makanan yang dapat dengan mudah terdegradasi secara alami, maka sampah makanan ini akan sulit dimanfaatkan jika sejak di sumber sudah bercampur dengan sampah lainnya. Terlebih kualitas keamanannya pun sudah tidak bisa dijamin lagi karena mungkin sudah terkontaminasi dan berpotensi sebagai berkembangnya vector penyakit. Kalau sampah sudah bercampur, penggunaan insinerator dalam mengelola sampah tersebut juga tidak lagi efektif karena sifat sampah makanan yang relatif basah. Hal ini dapat mengakibatkan turunnya efisiensi pembakaran dan efisiensi produksi energi pada insinerator sehingga energi yang diperlukan selama proses berjalan lebih besar, namun energi yang dihasilkan lebih kecil. Deskripsi diatas juga menerangkan beberapa dasar mengapa pemilahan sampah pada sumber, terutama pemilahan sampah makanan, dinilai sebagai kunci utama dalam pengelolaan sampah yang berkesinambungan. Biaya operasional skema pemilahan sampah memang bervariasi, tergantung dari jumlah titik pengumpulan, frekuensi pengambilan, jumlah penduduk yang dilayani dan rata-rata pendapatan tenaga kerja setempat. Umumnya skema pemilahan sampah makanan ini bisa sukses jika memenuhi kriteria sebagai berikut: menggunakan tempat sampah yang mudah digunakan dan cocok untuk sampah makanan cukup flexibel untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam benda pendukungnya mudah didapat dan selalu tersedia memiliki instruksi yang jelas untuk ikut ke dalam skema pengumpulan sampah yang berlaku Di banyak negara berkembang misalnya, pemilahan sampah pada sumbernya bukanlah hal yang mudah ditemui. Umumnnya negara berkembang masih mempraktekkan sistem kumpul-angkut-buang sampah yang sudah bercampur tadi ke Tempat Pengelolaan Akhir (TPA). Akibatnya, potensi terbentuknya air lindi dan gas methan sebagai penyebab utama efek rumah kaca dari sektor persampahan meningkat. Beberapa negara maju sudah pernah menjalankan program inistatif yang bertemakan pencegahan terjadinya sampah maupun program “penyelamatan” sampah makanan. Dari beberapa program yang sudah dijalankan terbukti bahwa hasilnya akan lebih optimal, baik pada level produsen, penyalur, maupun konsumen, jika program tersebut melibatan unsur manfaat ekonomi atau sisi economic benefit. Pada level masyarakat program semacam ini sering terkendala kurangnya pemberian pemahaman pada level pengguna, dan faktor tenaga dan waktu yang dianggap harus dikeluarkan lebih dari yang seharusnya. Selain melalui program pengurangan sampah, beberapa negara maju juga sudah mengeluarkan peraturan/kebijakan terkait sampah makanan, melalui tindakan tegas dan serentak seperti menutup semua TPA, mengharuskan memilah sampah bagi warga, serta menetapkan target pengomposan dan daur ulang pada level nasional. Tentunya semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun yang terpenting adalah setiap kebijakan hendaknya memiliki daya tarik dan melibatkan peran aktif dari masyarakat. Dua hal tersebut akan sangat mempengaruhi dampak dari kebijakan yang diberlakukan. Jumlah dan proporsi masyarakat yang ikut andil pun akan sangat dipengaruhi oleh budaya, seperti bagaimana kebiasaan masyarkat memasak, seberapa sering mereka menghabiskan waktu untuk makan di luar rumah, dan komitmen masyarakat untuk ikut berperan serta dalam proses daur ulang dan mengompos. Dalam kondisi sampah yang sudah bercampur, pengolahan sampah makanan masih dapat dilakukan. Tentunya kualitas produk yang dihasilkan dari sampah yang awalnya sudah bercampur akan berbeda dengan yang memang sudah sejak dari awal dipisahkan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pengolahan sampah makanan dapat mengintegarasikan pengomposan dengan anareobic digestion. Perpaduan yang melibatkan tahap persiapan, pengomposan dan anareobic digestion ini menghasilkan energi (biogas) dan produk (kompos) yang optimal, menghemat konsumsi energi dari subtitusi energi yang diproduksi, biaya yang lebih rendah untuk penanganan bau, kualitas sanitasi yang baik karena melalui 2 proses yang melibatkan suhu tinggi, dan tentunya mengurangi dampak perubahan iklim dengan menghindari pemakaian bahan bakar minyak dan pupuk kimia. Berbagai scenario pengendalian sampah makanan pun dilakukan dari mulai penanggalan tanggal kadal luarsa dan penganggalan tanggal pembelian, penomoran produk, dan pemberian label-label dengan maksud tertentu. Pada kenyataannya, banyak sampah makanan yang dibuang sebelum digunakan. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak dari kita, terutama sebagai masyarakat perkotaan dan sebagai konsumen, membeli makanan dalam jumlah banyak dengan maksud ingin mengolahnya dirumah, namun pada praktek sebenarnya lebih sering makan di restoran bersama teman maupun rekan kerjanya, atau juga karena keterbatasana waktu. Begitu juga dari sisi produsen, sudah banyak produsen yang meluncurkan berbagai antisipasi seperti pembubuhan informasi lengkap pada label produk sehingga konsumen bisa tahu apakah produk tersebut memang benar dibutuhkan. Selain itu produsen juga mengeluarkan berbagai jenis ukuran kemasan menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Opsi pembelian makanan dalam jumlah kecil memang ditujukan untuk meminimalkan kemungkinan makanan tersebut menjadi sampah karena sisa atau basi. Namun disisi lain pembelian makanan dalam kemasan-kemasan kecil justru akan meningkatkan jumlah sampah kemasan. Karena itu pesan dari sampah makanan sebagai isu global bagi kita semua adalah untuk berlaku bijak untuk semua makanan yang kita beli, yang kita bawa

Tren Dan Fakta Konsumsi Berkelanjutan – Perspektif Bisnis

Judul Asli : Sustainable Consumption Facts and Trends – From a Business Perspective Penerbit : WBCSD Tahun : 2008 Tebal : 39 halaman Fakta, tren, dan perkembangan dalam konsumsi yang berkelanjutan yang disajikan di dokumen ini, membahas hubungan antara kegiatan bisnis, tingkah laku atau kebiasaan konsumen, serta tantangan lingkungan dan sosial. Fakta dan tren yang dikembangkan oleh World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) adalah berdasarkan dari data – data eksisting yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti organisasi antar pemerintah, LSM, pemerintah, akademik, beberapa grup konsumen dan pebisnis yang menjadi member WBCSD. Berdasarkan United Nations Commission on Sustainable Development/UNCSD (1994), definisi dari produksi dan konsumsi yang berkelanjutan adalah penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menjadikan kualitas hidup yang lebih baik, dengan meminimisasi penggunaan sumber daya alam, bahan beracun, serta emisi dari buangan dan pencemar dalam siklus hidupnya sehingga tidak membahayakan kebutuhan generasi yang akan datang. Produksi dan konsumsi yang berkelanjutan telah menjadi isu utama dalam Konferensi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro pada tahun 1992, dan sejak itu masyarakat internasional diamanatkan untuk memperbaiki kondisi hidup secara global serta mendorong dan mempromosikan program Produksi dan Konsumsi yang Berkelanjutan (SCP) dalam menukung inisiatif regional dan nasional menuju perubahan ke arah produksi dan konsumsi yang berkelanjutan (SCP). Oleh sebab itu, diperlukan juga peran pemerintah serta pembuat kebijakan di semua tingkat yang memiliki peran penting dalam menciptakan peraturan hukum, fiskal, serta lingkungan budaya dalam mengembangkan bisnis yang berkelanjutan. Perlunya kebijakan yang mendorong konsumsi berkelanjutan telah diakui sebagai prioritas, baik di tingkat internasional, European Union, maupun komunitas bisnis. Dalam rangka memenuhi tantangan pembangunan yang berkelanjutan, kegiatan bisnis dapat membantu dalam mendorong tingkat dan pola konsumsi yang lebih berkelanjutan. Mengingat terdapat peran serta dan peluang dalam kegiatan bisnis, terutama dalam membantu konsumen pada saat memilih serta menggunakan barang dan jasa tersebut secara berkelanjutan. Untuk itu, bisnis harus menciptakan suatu nilai kelestarian (sustainable value) bagi konsumen dengan menyediakan produk dan layanan, yang memenuhi kebutuhan fungsional dan emosional mereka, untuk saat ini dan generasi yang akan datang, dengan menghormati batas batas kemampuan lingkungan dan nilai nilai utama lainnya. Tingkat dan pola konsumsi dunia didorong dan sangat dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu pertumbuhan populasi dunia yang sangat cepat, peningkatan kemakmuran secara global bagi kosumen dengan tingkat penghasilan menengah dan rendah, dan budaya konsumerisme diantara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi. Berdasarkan fakta dari Source data from Earthtrends UNDP (2008), penduduk dunia diproyeksikan mencapai 9 miliar pada tahun 2050, didorong oleh pertumbuhan di negara berkembang dan negara-negara dengan pendapatan per kapita yang rendah. Studi terkini oleh WWF Living Planet Report WWF (2006) menunjukan bahwa kondisi saat ini telah melampaui batas kemampuan bumi untuk mendukung gaya hidup kita, dan kondisi tersebut telah berjalan selama 20 tahun. Selain itu, data World Bank (Global Population Trends, 2008) menunjukan bahwa kelas menengah di negara berkembang diproyeksikan akan tumbuh sebesar 300% pada tahun 2030. Di sisi lain, UNDP memaparkan bahwa budaya konsumerisme atau pola konsumsi yang berlebihan dipacu oleh tekanan sosial oleh masyarakat berpendapatan tinggi untuk tetap mempertahankan pola konsumsi yang tinggi sebagai ajang kompetisi dan pamer kekayaan. Kemudian, dokumen ini juga menjelaskan mengenai pola konsumsi global serta dampaknya, yang mengarah pada kondisi ketidakberlanjutan dan memberikan tekanan yang cukup tinggi pada ekosistem bumi, pasokan sumber daya material yang dibutuhkan untuk pertumbuhan industri, serta sistem sosial manusia dan kesejahteraan. Mengingat alam yang memberikan dan menjamin ketersediaan sumber daya bagi industri demi keberlanjutan sistim produksi serta konsumsi. Berdasarkan Millennium Ecosystem Assessment (2005), sebesar 60% dari ekosistem telah terdegradasi dan dimanfaatkan secara tidak bijak (tidak berkelanjutan). Menurut data WWF, “ecological footprint” manusia (yang diukur berupa tekanan pada bumi dari kegiatan manusia dalam mengkonsumsi sumber daya alam) telah meningkat sebesar 125% dari daya dukungnya secara global dan dapat meningkat hingga 170% pada tahun 2040. Beberapa hal penting yang menjadi penyebab dari hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan sistem ekosistem adalah perubahan habitat (penggunaan lahan, modifikasi fisik sungai/penarikan air dari sungai, punahnya terumbu karang, rusaknya dasar laut akibat menjaring), perubahan iklim, memburu satwa langka, eksploitasi alam yang berlebihan, dan polusi. Oleh sebab itu, kegiatan ekonomi dan kepadatan penduduk cenderung berhubungan dengan besarnya ecological footprint. Konsumsi kebutuhan pokok sehari hari yang memiliki efek cukup besar bagi kerusakan lingkungan adalah makanan, transportasi, dan tempat tinggal. Selain itu, sebuah penelitian menjelaskan bahwa tingkat konsumsi yang tinggi tidak menjamin kebahagiaan, yang berarti bahwa seseorang dapat hidup berumur panjang dan bahagia tanpa mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan. Konsumen juga memiliki peran yang cukup penting dalam konsumsi yang berkelanjutan, yakni dari segi sikap dan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi suatu produk. Dokumen tersebut menjelaskan bahwa kepedulian konsumen akan isu lingkungan, sosial, dan ekonomi, serta kemauan untuk bertindak atas kepedulian tersebut meningkat. Namun, kemauan konsumen tersebut untuk bertindak secara nyata sepertinya belum dapat terlaksana karena beberapa keterbatasan seperti ketersediaan produk, kemampuan/daya beli konsumen, kenyamanan menggunakan produk lama, kualitas produk, prioritas yang saling bertentangan, skeptisisme dan kebiasaan. Di sisi lain, pelaku bisnis pun memiliki peran yang penting dalam konsumsi yang berkelanjutan dengan melakukan pendekatan untuk menerapkan konsumsi yang berkelanjutan, yang saat ini menjadi bagian dalam bisnis. Adapun pendekatan yang dapat dilakukan yaitu dengan menciptakan inovasi, memberikan beberapa pilihan yang dapat mempengaruhi konsumen untuk menerapkan konsumsi yang berkelanjutan, ataupun dapat dilakukan dengan mengubah suatu produk/komponen produk yang mendukung produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Pengembangan peningkatan produk, jasa, dan model bisnis terkini telah beralih dan berfokus pada pemberian nilai sosial semaksimal mungkin dengan biaya lingkungan yang minimum. Inovasi dapat dilakukan dengan meningkatkan ketersediaan layanan dan produk yang lebih berkelanjutan dengan mengintegrasikan kelestarian serta proses siklus hidup dalam menginovasi desain suatu produk tanpa mempengaruhi kualitas, harga atau kinerja di pasar. Dalam mempengaruhi pilihan konsumen, komunikasi pemasaran dan kampanye dilakukan dalam meningkatkan kesadaran serta mendorong konsumen untuk memilih dan menggunakan produk yang lebih efisien dan berkelanjutan. Salah satunya dengan menciptakan pasar untuk produk serta model bisnis yang berkelanjutan. Dimana, penerapannya dapat dilakukan bersama dengan konsumen dan pemangku kepentingan yang memegang peranan penting, dengan menunjukkan bahwa produk serta gaya hidup yang berkelanjutan memberikan kinerja yang superior dengan harga terbaik. Selain itu, penghapusan produk, komponen produk, serta jasa/layanan yang