UB Students Trained in Waste Management and Firefighting to Build Environmental Awareness

[National] · Environment & Impact Ringkasan Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengikuti pelatihan komprehensif dalam manajemen sampah dan penanggulangan kebakaran untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. Program pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam mengelola limbah secara berkelanjutan dan mencegah risiko kebakaran. Melalui inisiatif ini, diharapkan mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang membawa kesadaran lingkungan ke komunitas masing-masing. Pelatihan mencerminkan komitmen UB terhadap pembangunan berkelanjutan dan penguatan kapasitas generasi muda dalam isu-isu lingkungan kritis. Summary University of Brawijaya (UB) students participated in comprehensive training on waste management and firefighting to enhance environmental awareness. The training program was designed to equip participants with practical knowledge and skills in sustainable waste management and fire prevention measures. Through this initiative, students are expected to become agents of change who promote environmental consciousness within their respective communities. The training reflects UB’s commitment to sustainable development and strengthening the capacity of young people in addressing critical environmental issues. ───────────── Baca selengkapnya di: Kompas.id →

Enemies of Energy: Plastic pollution

[International] · Environment & Impact Ringkasan Polusi plastik merupakan salah satu tantangan lingkungan paling serius yang mengancam keberlanjutan energi global. Limbah plastik yang tidak dikelola dengan baik berkontribusi pada degradasi ekosistem, peningkatan emisi karbon, dan pemborosan sumber daya energi yang berharga. Penanganan polusi plastik memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan pengurangan produksi, peningkatan daur ulang, dan transisi menuju ekonomi sirkular. Sustainable Waste Indonesia berkomitmen untuk mengatasi krisis ini melalui solusi inovatif dan kebijakan yang berkelanjutan. Summary Plastic pollution represents one of the most pressing environmental challenges threatening global energy sustainability. Improperly managed plastic waste contributes to ecosystem degradation, increased carbon emissions, and wasteful consumption of valuable energy resources. Addressing plastic pollution requires a comprehensive approach involving production reduction, enhanced recycling practices, and a transition toward a circular economy. Sustainable Waste Indonesia is committed to combating this crisis through innovative solutions and sustainable policies. ───────────── Baca selengkapnya di: Capital Research Center →

Berau Kaltim bersama tiga negara kelola sampah plastik lindungi pulau kecil di perbatasan

[National] · Environment & Impact Ringkasan Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, berkolaborasi dengan tiga negara untuk mengelola sampah plastik dan melindungi pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan. Inisiatif ini merupakan upaya multilateral untuk mengatasi pencemaran plastik yang mengancam ekosistem laut dan kepulauan kecil di perbatasan. Kerjasama regional ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan pengelolaan sampah di kawasan transnasional. Program kolaborasi diharapkan dapat mengurangi dampak negatif limbah plastik terhadap ekosistem dan biodiversitas pulau-pulau perbatasan. Summary Berau District Government in East Kalimantan is collaborating with three neighboring countries to manage plastic waste and protect small islands in border regions. This multilateral initiative aims to address plastic pollution that threatens marine ecosystems and small island communities in transnational areas. The regional cooperation demonstrates a shared commitment to environmental sustainability and improved waste management across border regions. The collaborative program is expected to reduce the negative impact of plastic waste on the ecosystems and biodiversity of border islands. ───────────── Baca selengkapnya di: ANTARA News Megapolitan →

Study says Washington plastic bag ban increases waste

[International] · Policy Ringkasan Sebuah studi menunjukkan bahwa larangan kantong plastik di Washington justru meningkatkan volume sampah secara keseluruhan. Penelitian ini mengungkapkan bahwa konsumen beralih menggunakan alternatif kantong yang memiliki dampak lingkungan yang tidak jauh berbeda atau bahkan lebih besar. Temuan ini menjadi penting bagi Sustainable Waste Indonesia dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan pengurangan plastik sekali pakai. Diperlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan seluruh siklus hidup produk pengganti kantong plastik untuk mencapai pengurangan sampah yang sesungguhnya. Summary A study indicates that Washington’s plastic bag ban paradoxically increases overall waste generation. The research reveals that consumers are shifting to alternative bag options that carry comparable or even greater environmental impacts. This finding is significant for Sustainable Waste Indonesia in assessing the true effectiveness of single-use plastic reduction policies. A holistic approach that considers the full lifecycle of plastic bag alternatives is necessary to achieve genuine waste reduction outcomes. ───────────── Baca selengkapnya di: Capital Press →

Perbandingan Biaya, Kebutuhan Lahan, dan Risiko Penerapan Teknologi Persampahan

Perbandingan Biaya, Kebutuhan Lahan, dan Risiko Penerapan Teknologi Persampahan

Seri Artikel · 6 Bagian Artikel ini adalah bagian kelima dari seri edukasi tentang teknologi pengolahan sampah di Indonesia, disusun berdasarkan kajian strategis Penilaian Perbandingan Teknologi Pengolahan Sampah (WTE dan Non WTE) yang diterbitkan Kementerian PPN/Bappenas bersama UNDP Indonesia, April 2026. Lanskap dan Krisis: Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar TPA Mengubah Sampah Organik Menjadi Sumber Daya (Teknologi Biologis) Pengolahan Sampah Secara Mekanis dan Pembuatan RDF Teknologi Pembakaran Sampah Menjadi Energi (Waste-to-Energy Termal) Perbandingan Biaya, Kebutuhan Lahan, dan Risiko Penerapan Teknologi ← Anda membaca ini Kerangka Integratif: Mengapa Memilih Teknologi Saja Tidak Cukup? Analisis Ekonomi · CAPEX & OPEX · Perbandingan 9 Teknologi Berapa Sesungguhnya Biaya Mengolah Sampah? Dari Compost Bin Rp 100 Ribu hingga Insinerator Rp 6 Miliar per Ton Kapasitas Esai 5 dari 6  ·  ~18 menit baca  · Berdasarkan Kajian Resmi Bappenas–UNDP 2026 Ditulis dengan bantuan AI . Ditinjau & disunting profesional Ada sebuah pertanyaan yang hampir selalu muncul di setiap rapat perencanaan fasilitas pengolahan sampah, yaitu “kita sudah hitung total biayanya belum, termasuk operasional sepuluh tahun ke depan?” Banyak fasilitas yang berhasil dibangun justru gagal di tahun ketiga atau keempat bukan karena teknologinya rusak, melainkan karena model keuangannya tidak realistis sejak awal. Harga beli hanyalah titik awal. Yang menentukan keberlanjutan adalah biaya operasional harian, biaya tenaga kerja, biaya energi, biaya pemeliharaan, dan yang paling sering diabaikan adalah biaya pengelolaan residu. Di sisi lain, ada potensi pendapatan dari produk yang dihasilkan, seperti kompos, larva BSF, RDF, material daur ulang, hingga listrik. Dalam kasus terbaik, pendapatan ini bisa menutup sebagian besar biaya operasional. Dalam kasus terburuk, produk tidak terjual dan tumpukan di gudang menjadi biaya tambahan. Esai ini menyajikan gambaran komparatif dari sembilan teknologi yang telah dibahas dalam seri ini sebagai kerangka berpikir yang membantu pengambil keputusan mengajukan pertanyaan yang tepat sebelum komitmen anggaran dibuat. Catatan metodologi: Seluruh angka CAPEX, OPEX, dan kebutuhan lahan dalam esai ini bersumber dari kajian Bappenas–UNDP 2026 dan disajikan sebagai rentang indikatif untuk perbandingan konseptual (bukan sebagai angka desain atau rencana investasi yang tepat). Biaya sudah dikonversi ke IDR dan disesuaikan ke nilai estimasi tahun 2025. Biaya akuisisi lahan, perizinan, infrastruktur eksternal, pembiayaan, dan depresiasi tidak termasuk dalam angka CAPEX yang disajikan. Lapisan Biaya yang Harus Dipahami Penting untuk dipahami bahwa biaya pengolahan sampah terdiri dari tiga lapisan yang memiliki karakteristik sangat berbeda. IDR Biaya Modal (CAPEX) — Dibayar Sekali, Menentukan Skala Biaya investasi awal untuk peralatan, konstruksi, dan instalasi. Dinyatakan per ton per hari kapasitas terpasang.  Tidak termasuk lahan, perizinan, dan infrastruktur eksternal. /ton Biaya Operasional (OPEX) — Dibayar Setiap Hari Biaya untuk memproses setiap ton sampah, seperti tenaga kerja, listrik, bahan habis pakai, pemeliharaan rutin, dan penanganan residu. Tidak termasuk pembiayaan, depresiasi, dan transportasi ke offtaker. m² Kebutuhan Lahan — Sering Diremehkan dalam Perencanaan Dinyatakan dalam m² per ton per hari kapasitas. Di kota-kota Indonesia di mana lahan menjadi aset paling mahal dan langka, kebutuhan lahan adalah faktor pembatas yang seringkali baru disadari setelah desain sudah terlanjur ditentukan. Angka ini mencakup unit pengolahan utama dan fasilitas pendukung, tapi bukan untuk desain tata letak detail. Perbandingan 9 Teknologi Berikut adalah data komparatif lengkap dari kesembilan teknologi yang dievaluasi dalam kajian Bappenas–UNDP 2026. Kolom diurutkan dari teknologi paling sederhana hingga paling kompleks. Teknologi Kapasitas Lahan (m²/tpd) CAPEX (IDR/tpd) OPEX (IDR/ton) Compost Bin (CB) 0,3–30 kg/unit/hari 0,5–2 m²/unit 100 rb–10 jt/unit 50–1.500 rb/unit/tahun Open Windrow (OWC) 1–85 tpd 165–500 100–600 jt 90–500 rb Black Soldier Fly (BSF) 1–50 tpd 150–250 200–900 jt 20–350 rb Anaerobic Digestion (AD) 10–200 tpd 30–90 150–550 jt 280 rb–1,6 jt In-Vessel Composting (IVC) 30–100 tpd 35–265 250–800 jt 300–800 rb Mechanical Treatment (MT) 20–1.000 tpd 50–240 290–850 jt 125–640 rb Mechanical Biological Treatment (MBT) 150–850 tpd 60–250 400–660 jt 180 rb–1,2 jt Insinerasi WtE 100–3.000 tpd 35–100 1–6,4 miliar 450 rb–2,1 jt Gasifikasi WtE 240–1.000 tpd 30–70 700 jt–5,5 miliar 600 rb–2,5 jt tpd = ton per hari. IDR/tpd = IDR per ton kapasitas terpasang per hari. Sumber: Tabel 4, Kajian Bappenas–UNDP 2026. Angka rentang indikatif, disesuaikan ke nilai 2025. Tidak termasuk lahan, perizinan, dan infrastruktur eksternal. “Kapasitas fiskal dan model pembiayaan memainkan peran penting: analisis CAPEX, OPEX, dan potensi pendapatan harus digunakan untuk menilai potensi kemitraan, apakah KPBU, B2B, atau mekanisme lainnya.” — Kajian Penilaian Perbandingan Teknologi Pengolahan Sampah, Bappenas–UNDP 2026 Proses, Input, dan Pra-pengolahan Tabel berikut merangkum data ini dari dokumen kajian untuk seluruh sembilan teknologi. Perlu diperhatikan bahwa persyaratan pra-pengolahan yang berbeda memiliki implikasi biaya investasi tambahan yang sering tidak tercantum dalam proposal CAPEX teknologi itu sendiri. Teknologi Input / Feedstock Pra-pengolahan Alur Proses Utama Output Anaerobic Digestion (AD) Sampah makanan terpilah (organik basah). Sampah kebun lunak bisa sebagai bulking agent. Bisa dicampur pupuk kandang / lumpur tinja untuk tingkatkan aktivitas mikroba. Wajib: Pencacahan & penggilingan → slurry; pulping & dewatering untuk homogenisasi dan kontrol kadar padatan.Opsional: Pra-pengolahan termal, kimia, atau enzimatik untuk meningkatkan biodegradabilitas. Penerimaan → pulping → homogenisasi slurry → reaktor digester tertutup (tanpa O₂) → pengumpulan & pemanfaatan biogas → dewatering digestat → pematangan digestat Biogas (untuk memasak/listrik); digestat (perlu stabilisasi lanjutan sebelum diaplikasikan ke tanah) Compost Bin (CB) Sisa makanan & sampah kebun rumah tangga, terpilah dari sumber. Tidak untuk plastik, logam, atau B3. Minimal: Pencacahan kasar bahan keras (ranting); pencampuran material hijau (basah) dan coklat (kering) untuk rasio C:N optimal. Masukan organik ke wadah → penguraian aerobik → pengadukan berkala → pematangan 6–8 minggu → kompos siap pakai Kompos. Berfungsi sebagai mekanisme diverting di sumber, bukan pengolahan akhir skala besar. Open Windrow (OWC) Sampah makanan & kebun terpilah. Ranting dan dahan harus dicacah dahulu. Hindari kontaminasi plastik dan B3. Wajib: Pencacahan bahan keras (wood chipper/shredder); pemilahan manual kontaminan. Opsional: Pencampuran bahan struktural (sekam, serbuk gergaji) untuk perbaiki aerasi tumpukan. Penerimaan & pencacahan → penyusunan baris tumpukan (windrow) → pembalikan berkala (windrow turner/loader) → pemantauan suhu & kelembapan → pematangan → pengayakan → kompos Kompos sebagai pembenah tanah (soil conditioner). In-Vessel Composting (IVC) Sampah makanan terpilah, kandungan organik tinggi; biosolid bisa. Sampah kebun keras terbatas karena memperlambat proses dalam reaktor. Wajib: Pencacahan untuk ukuran seragam; pencampuran dengan bulking agent (sekam, woodchip) untuk pastikan aerasi merata

Ilmuwan ungkap mengapa penyu menyantap sampah plastik di laut

[International] · Environment & Impact Ringkasan Penelitian terbaru dari ilmuwan mengungkapkan alasan di balik perilaku penyu yang mengonsumsi sampah plastik di lautan. Para peneliti menemukan bahwa penyu keliru mengidentifikasi plastik sebagai makanan alami mereka, terutama plastik yang menyerupai ubur-ubur dan organisme laut lainnya. Penemuan ini memberikan wawasan penting tentang dampak pencemaran plastik terhadap kehidupan laut dan perlunya upaya pengurangan sampah plastik yang lebih agresif. Studi ini menekankan urgensi pengelolaan limbah berkelanjutan untuk melindungi ekosistem laut dan spesies yang terancam punah. Summary Scientists have revealed the reasons why sea turtles consume plastic waste in the ocean, shedding light on a critical environmental issue. Researchers discovered that turtles mistakenly identify plastic as natural food sources, particularly plastics that resemble jellyfish and other marine organisms. This finding provides crucial insights into the impacts of plastic pollution on marine life and highlights the necessity for more aggressive waste reduction efforts. The study underscores the urgent need for sustainable waste management practices to protect marine ecosystems and endangered species. ───────────── Baca selengkapnya di: BBC →

Pengelolaan Sampah di Pantai Bagek Kembar Dukung Wisata Berkelanjutan

[National] · Environment & Impact Ringkasan Pengelolaan sampah yang efektif di Pantai Bagek Kembar menjadi kunci dalam mendukung pengembangan wisata berkelanjutan di kawasan tersebut. Inisiatif ini menggabungkan upaya pembersihan pantai, pengurangan sampah plastik, dan edukasi lingkungan untuk menjaga kelestarian ekosistem pantai. Dengan melibatkan komunitas lokal dan wisatawan, program pengelolaan sampah ini menciptakan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Pendekatan holistik ini membuktikan bahwa pariwisata yang berkelanjutan dapat berjalan beriringan dengan konservasi lingkungan. Summary Effective waste management at Bagek Kembar Beach serves as a cornerstone in supporting sustainable tourism development in the region. This initiative combines beach cleaning efforts, plastic waste reduction, and environmental education to preserve the coastal ecosystem. By engaging local communities and tourists, the waste management program fosters collective awareness about the importance of maintaining cleanliness and environmental conservation. This holistic approach demonstrates that sustainable tourism can progress hand-in-hand with environmental protection. ───────────── Baca selengkapnya di: Media Indonesia →

Combined policy options needed to remedy plastic waste in US, Pew report finds

[International] · Policy Ringkasan Sebuah laporan dari Pew Research menemukan bahwa mengatasi krisis sampah plastik di Amerika Serikat memerlukan pendekatan kebijakan yang komprehensif dan terintegrasi. Solusi tunggal tidak cukup efektif untuk mengurangi volume sampah plastik yang terus meningkat, sehingga diperlukan kombinasi strategi dari berbagai sektor. Rekomendasi laporan tersebut mencakup regulasi produksi, peningkatan sistem daur ulang, dan perubahan perilaku konsumen. Dengan implementasi kebijakan multi-aspek ini, Amerika Serikat dapat mencapai pengurangan sampah plastik yang signifikan dan berkelanjutan. Summary A Pew Research report reveals that addressing the plastic waste crisis in the United States requires a comprehensive and integrated policy approach. Single solutions prove insufficient to reduce the continuously growing volume of plastic waste, necessitating a combination of strategies across multiple sectors. The report’s recommendations include production regulations, improved recycling systems, and changes in consumer behavior. Through the implementation of these multi-faceted policies, the United States can achieve significant and sustainable reductions in plastic waste. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Dive →

Limbah Plastik Digunakan untuk Aspal Jalan, Ternyata Berisiko. Kenapa?

[International] · Environment & Impact Ringkasan Penggunaan limbah plastik dalam campuran aspal jalan ternyata membawa risiko signifikan yang perlu dipertimbangkan dengan matang. Meskipun praktik ini tampak sebagai solusi inovatif untuk mengurangi sampah plastik, penelitian menunjukkan bahwa aspal berbahan plastik dapat mengalami degradasi lebih cepat dan berpotensi melepaskan mikroplastik ke lingkungan. Pemerintah dan pelaksana proyek infrastruktur perlu melakukan uji coba menyeluruh sebelum menerapkan teknologi ini secara luas untuk memastikan keamanan lingkungan jangka panjang. Summary While using plastic waste in road asphalt appears to be an innovative solution for reducing plastic pollution, research reveals significant environmental and durability risks that require careful consideration. Studies indicate that plastic-based asphalt can degrade more rapidly than conventional asphalt and may release microplastics into the surrounding environment. Government agencies and infrastructure developers should conduct comprehensive testing before widespread implementation to ensure long-term environmental safety and structural integrity. ───────────── Baca selengkapnya di: Mongabay.co.id →

Darurat Sampah, BRIN dan UNP Kediri Kolaborasi Kembangkan Sistem Pemilah Plastik Otomatis

[National] · Policy Ringkasan BRIN dan UNP Kediri berkolaborasi mengembangkan sistem pemilah plastik otomatis sebagai solusi mengatasi darurat sampah plastik. Teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi pemisahan jenis-jenis plastik secara otomatis, sehingga memudahkan proses daur ulang dan mengurangi beban pengelolaan sampah manual. Inovasi tersebut merupakan langkah strategis dalam upaya manajemen limbah plastik yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Kolaborasi antara lembaga penelitian dan universitas ini diharapkan dapat menghasilkan solusi yang dapat diimplementasikan secara lebih luas di berbagai fasilitas pengolahan sampah. Summary BRIN and UNP Kediri have collaborated to develop an automated plastic sorting system as a solution to address the plastic waste crisis. This technology is designed to improve the efficiency of plastic type separation automatically, thus facilitating the recycling process and reducing the burden of manual waste management. The innovation represents a strategic step in efforts toward more sustainable plastic waste management in Indonesia. The collaboration between the research institution and university is expected to produce a solution that can be implemented more widely across various waste processing facilities. ───────────── Baca selengkapnya di: Kompas.tv →