Kementerian Lingkungan Hidup Perkuat Implementasi EPR untuk Percepat Ekonomi Sirkular

[National] · Policy Ringkasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkuat implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) sebagai strategi utama untuk mempercepat transisi ekonomi sirkular di Indonesia. Melalui kebijakan EPR, produsen diberikan tanggung jawab penuh dalam mengelola produk mereka di akhir masa pakai, termasuk pengumpulan, pemilahan, dan daur ulang. Langkah ini bertujuan mengurangi beban pengelolaan sampah dari pemerintah lokal sambil mendorong produsen untuk merancang produk yang lebih ramah lingkungan dan dapat didaur ulang. Implementasi EPR yang lebih kuat diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan dan mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas produksi dan konsumsi. Summary The Ministry of Environment and Forestry (KLHK) is strengthening the implementation of Extended Producer Responsibility (EPR) as a key strategy to accelerate the transition to a circular economy in Indonesia. Through the EPR policy, producers are given full responsibility for managing their products at the end of their lifecycle, including collection, sorting, and recycling. This initiative aims to reduce the waste management burden on local governments while encouraging producers to design more environmentally friendly and recyclable products. Stronger EPR implementation is expected to create a sustainable circular economy ecosystem and reduce the environmental impact of production and consumption activities. ───────────── Baca selengkapnya di: kontan.co.id →

Greyparrot wins Circular Economy Project of the Year at UK Green Business Awards 2026

[International] · Technology Ringkasan Greyparrot telah memenangkan penghargaan Circular Economy Project of the Year pada UK Green Business Awards 2026, mengakui kontribusi signifikan mereka dalam mendorong ekonomi sirkular. Prestasi ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap inovasi berkelanjutan dan solusi pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Penghargaan tersebut menegaskan peran penting teknologi dan praktik terbaik dalam transformasi ekonomi sirkular di sektor kemasan dan manajemen limbah. Summary Greyparrot has won the Circular Economy Project of the Year award at the UK Green Business Awards 2026, recognizing their significant contributions to advancing circular economy practices. This achievement reflects the company’s commitment to sustainable innovation and responsible waste management solutions. The award underscores the critical role of technology and best practices in driving circular economy transformation within the packaging and waste management sector. ───────────── Baca selengkapnya di: Sustainable Packaging News →

Circular economy investments drive waste industry innovations, hurdles

[International] · Technology Ringkasan Investasi dalam ekonomi sirkular mendorong inovasi signifikan di industri pengelolaan sampah, membuka peluang baru untuk transformasi berkelanjutan. Namun, sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan implementasi, termasuk keterbatasan teknologi dan infrastruktur yang belum optimal. Pendanaan yang meningkat menunjukkan komitmen stakeholder terhadap solusi waste management yang lebih ramah lingkungan. Diperlukan kolaborasi strategis antara pemerintah, investor, dan industri untuk mengatasi hambatan dan memaksimalkan potensi ekonomi sirkular. Summary Circular economy investments are driving significant innovations within the waste management industry, creating new opportunities for sustainable transformation. However, the sector continues to face various implementation challenges, including technological limitations and suboptimal infrastructure development. Increased funding demonstrates stakeholder commitment to more environmentally responsible waste management solutions. Strategic collaboration between government, investors, and industry is essential to overcome barriers and maximize the potential of circular economy initiatives. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Dive →

Pertamina Patra Niaga Dorong Ekonomi Sirkular melalui Pengelolaan Sampah dan Limbah Berkelanjutan

[National] · Environment & Impact Ringkasan Pertamina Patra Niaga mengambil inisiatif strategis dalam mendorong ekonomi sirkular melalui implementasi pengelolaan sampah dan limbah yang berkelanjutan. Langkah ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap praktik bisnis yang ramah lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular, Pertamina Patra Niaga berupaya mengurangi limbah, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, dan menciptakan nilai tambah dari material yang sebelumnya dianggap sampah. Inisiatif ini diharapkan dapat berkontribusi positif terhadap pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kesadaran industri tentang pentingnya manajemen limbah yang efektif. Summary Pertamina Patra Niaga has launched a strategic initiative to promote circular economy through sustainable waste and waste management practices. This initiative reflects the company’s commitment to environmentally responsible business practices and corporate social responsibility. By implementing circular economy principles, Pertamina Patra Niaga aims to reduce waste, optimize resource utilization, and create added value from materials previously considered waste. This initiative is expected to contribute positively to sustainable development and enhance industry awareness regarding the importance of effective waste management. ───────────── Baca selengkapnya di: republika.co.id →

WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation

[International] · Technology Ringkasan Artikel ini membahas transformasi fundamental dalam manajemen limbah menuju ekonomi sirkular yang melampaui paradigma pertumbuhan konvensional. Industri manajemen limbah harus beralih dari fokus pada optimalisasi efisiensi menuju pembangunan ketahanan sistem yang dapat menghadapi ketidakpastian masa depan. Pendekatan pasca-pertumbuhan ini mengakui bahwa keberlanjutan sejati memerlukan perubahan struktural dalam cara kita memproduksi, mengonsumsi, dan mengelola sumber daya. Dengan mengutamakan resiliensi, sektor limbah dapat berkontribusi lebih efektif terhadap transisi ekonomi sirkular yang adil dan berkelanjutan. Summary This article explores the fundamental shift in waste management toward a circular economy that transcends conventional growth-oriented paradigms. The waste management industry must transition from optimization-focused strategies toward building system resilience capable of withstanding future uncertainties. This post-growth approach recognizes that true sustainability requires structural changes in how we produce, consume, and manage resources. By prioritizing resilience over optimization, the waste sector can contribute more effectively to an equitable and sustainable circular economy transition. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →

WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation

[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular menghadirkan tantangan baru bagi industri manajemen sampah yang harus meninggalkan paradigma pertumbuhan berkelanjutan. Artikel ini menekankan bahwa optimisasi efisiensi saja tidak cukup untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan, melainkan diperlukan pendekatan yang berfokus pada ketahanan (resilience). Perusahaan pengelola sampah perlu mengadaptasi strategi mereka untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi dan lingkungan, bukan hanya mengejar efisiensi maksimal. Transisi ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk membangun infrastruktur sampah yang lebih robust dan adaptif di era pasca-pertumbuhan. Summary The circular economy presents fundamental challenges to the waste management industry, demanding a shift away from continuous growth paradigms. The article underscores that optimization efficiency alone is insufficient for creating truly sustainable systems; instead, a resilience-focused approach is essential. Waste management companies must pivot their strategies to anticipate economic and environmental uncertainties rather than pursuing maximum efficiency gains alone. This transition reflects an urgent need to establish more robust and adaptive waste infrastructure suited to a post-growth economic era. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →

WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation

[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular menuntut perubahan paradigma industri pengelolaan sampah dari fokus optimisasi menuju ketahanan sistem. Dalam era pascapertumbuhan, perusahaan harus memprioritaskan resiliensi untuk menghadapi ketidakpastian dan keterbatasan sumber daya daripada hanya mengejar efisiensi maksimal. Pendekatan ini memungkinkan sektor sampah untuk berkontribusi lebih signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan melalui sistem yang adaptif dan tangguh. Transformasi ini menjadi kunci bagi Sustainable Waste Indonesia dalam membangun praktik pengelolaan sampah yang dapat bertahan jangka panjang. Summary The circular economy demands a paradigm shift in the waste management industry, moving from optimization-focused strategies toward building system resilience. In a post-growth era, companies must prioritize robustness to withstand uncertainty and resource constraints rather than pursuing maximum efficiency alone. This approach enables the waste sector to contribute more significantly to sustainable development through adaptive and durable systems. This transformation is essential for Sustainable Waste Indonesia to establish waste management practices capable of sustaining long-term viability. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →

WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation

[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular menghadirkan tantangan fundamental bagi industri manajemen sampah yang selama ini berfokus pada optimisasi efisiensi dalam sistem pertumbuhan linier. Artikel ini menekankan perlunya pergeseran paradigma dari optimisasi menuju ketahanan sistem, mengingat keterbatasan sumber daya dan dampak lingkungan yang terus meningkat. Resiliensi menjadi kunci utama untuk membangun sektor manajemen sampah yang dapat beradaptasi dengan dinamika ekonomi pasca-pertumbuhan dan perubahan iklim. Transisi ini memerlukan inovasi kebijakan dan teknologi yang mendukung siklus material berkelanjutan daripada sekadar meningkatkan produktivitas. Summary The circular economy presents a fundamental challenge to the waste management industry, which has traditionally focused on efficiency optimisation within linear growth systems. The article emphasises the necessity of shifting from optimisation toward building system resilience, considering finite resources and mounting environmental impacts. Resilience becomes essential for developing a waste management sector capable of adapting to post-growth economics and climate change dynamics. This transition requires policy innovation and technology that supports sustainable material cycles rather than merely increasing productivity. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →

WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation

[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular memerlukan perubahan paradigma fundamental dalam industri manajemen limbah, melampaui fokus tradisional pada optimasi efisiensi. Dalam era pertumbuhan ekonomi yang terbatas, ketahanan sistem (resilience) menjadi prioritas utama dibandingkan dengan peningkatan output semata. Pendekatan ini menekankan pentingnya membangun infrastruktur limbah yang adaptif dan berkelanjutan untuk menghadapi ketidakpastian global. SWI berkomitmen untuk mendorong transformasi menuju model ekonomi sirkular yang memprioritaskan ketahanan lingkungan dan sosial jangka panjang. Summary The circular economy demands a fundamental paradigm shift in waste management, transcending the traditional focus on efficiency optimization alone. In an era of constrained economic growth, building system resilience emerges as a critical priority over mere output maximization. This approach emphasizes the need for adaptive and sustainable waste infrastructure capable of withstanding global uncertainties. SWI is committed to advancing the transition toward a circular economy model that prioritizes long-term environmental and social resilience. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →

WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation

[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular menuntut pergeseran paradigma dalam manajemen sampah dari fokus optimasi menuju ketahanan sistem. Pertumbuhan ekonomi tradisional yang berkelanjutan tidak lagi menjadi solusi utama; sebaliknya, industri harus membangun resiliensi untuk menghadapi keterbatasan sumber daya dan dampak lingkungan. Pendekatan post-growth ini menekankan pentingnya sistem yang adaptif dan robust dalam menghadapi kompleksitas tantangan keberlanjutan. SWI berkomitmen untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip ini dalam operasional manajemen sampah Indonesia. Summary The circular economy demands a fundamental shift in waste management strategy from optimization-focused approaches toward building system resilience. Traditional economic growth models are no longer sufficient as the primary solution; instead, the industry must develop adaptive systems capable of withstanding resource scarcity and environmental pressures. This post-growth perspective emphasizes the need for robust and flexible waste management frameworks that address sustainability challenges comprehensively. SWI is committed to embedding these resilience-centered principles into Indonesia’s waste management practices. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →