‘Waste colonialism’: Fiji says no to Australian billionaire’s incineration plan

[International] · Technology Ringkasan Fiji menolak rencana pembangunan fasilitas insinerasi limbah oleh seorang miliarder Australia, dengan menyebut inisiatif tersebut sebagai bentuk “kolonialisme limbah”. Penolakan ini mencerminkan kekhawatiran negara-negara berkembang terhadap praktik pemindahan limbah dari negara maju ke negara lain yang lebih rentan secara ekonomi. Keputusan Fiji menekankan pentingnya kedaulatan lingkungan dan perlunya solusi manajemen sampah yang berkelanjutan di tingkat lokal. Isu ini menyoroti dinamika global dalam penanganan limbah dan komitmen untuk menghindari eksploitasi sumber daya dan lingkungan negara berkembang. Summary Fiji has rejected a waste incineration facility proposal by an Australian billionaire, labeling the initiative as “waste colonialism”. The rejection reflects developing nations’ concerns about wealthy countries transferring waste management burdens to economically vulnerable regions. Fiji’s decision underscores the importance of environmental sovereignty and the need for sustainable, locally-based waste management solutions. This issue highlights global dynamics in waste handling and the commitment to prevent the exploitation of developing nations’ resources and environment. ───────────── Baca selengkapnya di: The Guardian →

California legislature advances key waste, recycling bills

[International] · Technology Ringkasan Legislatur California telah memajukan beberapa undang-undang penting yang berkaitan dengan manajemen limbah dan daur ulang. Langkah ini menunjukkan komitmen negara bagian terhadap pengurangan limbah dan peningkatan praktik keberlanjutan. Undang-undang yang diajukan diharapkan dapat memperkuat infrastruktur daur ulang dan mengurangi dampak lingkungan dari limbah konsumen. Inisiatif ini sejalan dengan target California untuk mencapai ekonomi sirkular yang lebih baik. Summary The California legislature has advanced several key bills focused on waste management and recycling initiatives. This development demonstrates the state’s commitment to waste reduction and sustainable practices. The proposed legislation is expected to strengthen recycling infrastructure and minimize environmental impacts from consumer waste. These initiatives align with California’s broader goals of establishing a more circular economy. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Dive →

Desa Energi Berdikari Keliki Sulap Sampah Jadi Kompos-Eco Enzyme

[National] · Technology Ringkasan Desa Energi Berdikari Keliki mengembangkan inovasi pengelolaan sampah dengan mengubah limbah organik menjadi kompos dan eco enzyme. Program ini merupakan upaya berkelanjutan untuk mengurangi volume sampah sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal. Inisiatif desa ini menunjukkan komitmen terhadap ekonomi sirkular dan pemberdayaan komunitas dalam mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab. Dengan sistem ini, Desa Keliki telah membuktikan bahwa sampah dapat menjadi aset berharga untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Summary Keliki Independent Energy Village has developed an innovative waste management solution by transforming organic waste into compost and eco enzyme products. This program represents a sustainable effort to reduce waste volume while generating valuable products that benefit the local community. The village’s initiative demonstrates a strong commitment to circular economy principles and community empowerment in managing natural resources responsibly. Through this system, Keliki Village has proven that waste can become a valuable asset for environmental sustainability and community economic welfare. ───────────── Baca selengkapnya di: detikFinance →

Jepara diharapkan memasukkan pengelolaan dan daur ulang sampah ke kurikulum sekolah

[National] · Technology Ringkasan Jepara diharapkan mengintegrasikan pengelolaan dan daur ulang sampah ke dalam kurikulum pendidikan sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran lingkungan sejak dini. Langkah ini bertujuan untuk membangun generasi muda yang peduli terhadap penanganan sampah berkelanjutan dan mampu menerapkan praktik daur ulang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memasukkan materi ini ke dalam sistem pendidikan, diharapkan dapat tercipta budaya ramah lingkungan yang kuat di tingkat komunitas. Inisiatif pendidikan ini menjadi strategi penting dalam menciptakan perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Summary Jepara is expected to integrate waste management and recycling practices into school curricula as part of efforts to enhance environmental awareness among students from an early age. This initiative aims to develop a generation of young people who are conscious of sustainable waste handling and capable of implementing recycling practices in their daily lives. By incorporating this material into the education system, it is hoped that a strong eco-friendly culture will be created at the community level. This educational initiative is considered an important strategy in fostering behavioral change toward more responsible waste management practices among the public. ───────────── Baca selengkapnya di: ANTARA News Jateng →

Jepang hingga China Berebut Garap Proyek Sampah Jadi Listrik RI

[National] · Technology Ringkasan Proyek konversi sampah menjadi listrik di Indonesia menarik perhatian investor internasional, khususnya dari Jepang dan China yang berlomba untuk mengamankan kesempatan bisnis ini. Teknologi waste-to-energy dipandang sebagai solusi strategis untuk mengatasi permasalahan sampah sambil menghasilkan energi terbarukan. Kompetisi antar negara ini mencerminkan potensi pasar yang besar di sektor manajemen limbah Indonesia. Pemerintah Indonesia berpeluang memanfaatkan transfer teknologi dan investasi asing untuk mempercepat transisi energi berkelanjutan. Summary Japan and China are competing to secure waste-to-energy conversion projects in Indonesia, reflecting growing international investor interest in the sector. The technology is regarded as a strategic solution to address Indonesia’s waste management challenges while generating renewable energy. This competition among foreign nations demonstrates the substantial market potential within Indonesia’s waste management industry. The Indonesian government has an opportunity to leverage foreign investment and technology transfer to accelerate sustainable energy transition. ───────────── Baca selengkapnya di: republika.co.id →

Antigua and Barbuda advances waste-to-energy plans

[International] · Technology Ringkasan Antigua dan Barbuda terus mengembangkan rencana konversi limbah menjadi energi sebagai bagian dari komitmen mereka terhadap keberlanjutan lingkungan. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sambil mengelola limbah padat secara lebih efisien. Proyek waste-to-energy diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan jangka panjang bagi negara kepulauan tersebut. Langkah strategis ini menunjukkan dedikasi Antigua dan Barbuda dalam menciptakan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Summary Antigua and Barbuda is advancing its waste-to-energy initiatives as part of a broader commitment to environmental sustainability. This strategic project aims to reduce fossil fuel dependency while simultaneously addressing solid waste management challenges more effectively. The waste-to-energy program is expected to deliver significant long-term economic and environmental benefits for the island nation. This progressive approach demonstrates Antigua and Barbuda’s dedication to implementing sustainable waste management solutions. ───────────── Baca selengkapnya di: Antigua Observer Newspaper →

Politik Akselerasi ”Waste to Energy”

[National] · Technology Ringkasan Pemerintah Indonesia mempercepat implementasi teknologi “Waste to Energy” sebagai strategi pengelolaan sampah dan transisi energi terbarukan. Kebijakan ini dirancang untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan energi listrik dari limbah. Akselerasi ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta untuk membangun infrastruktur dan mendorong investasi dalam teknologi konversi sampah menjadi energi. Inisiatif tersebut diharapkan dapat memberikan solusi ganda terhadap tantangan manajemen limbah dan kebutuhan energi berkelanjutan di Indonesia. Summary The Indonesian government is accelerating the implementation of “Waste to Energy” technology as a strategy for waste management and renewable energy transition. This policy is designed to reduce the volume of waste entering landfills while generating electricity from waste materials. The acceleration involves collaboration between central government, regional authorities, and the private sector to develop infrastructure and encourage investment in waste-to-energy conversion technologies. This initiative is expected to provide a dual solution to Indonesia’s challenges in waste management and the growing demand for sustainable energy sources. ───────────── Baca selengkapnya di: Kompas.id →

Perbandingan Biaya, Kebutuhan Lahan, dan Risiko Penerapan Teknologi Persampahan

Perbandingan Biaya, Kebutuhan Lahan, dan Risiko Penerapan Teknologi Persampahan

Seri Artikel · 6 Bagian Artikel ini adalah bagian kelima dari seri edukasi tentang teknologi pengolahan sampah di Indonesia, disusun berdasarkan kajian strategis Penilaian Perbandingan Teknologi Pengolahan Sampah (WTE dan Non WTE) yang diterbitkan Kementerian PPN/Bappenas bersama UNDP Indonesia, April 2026. Lanskap dan Krisis: Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar TPA Mengubah Sampah Organik Menjadi Sumber Daya (Teknologi Biologis) Pengolahan Sampah Secara Mekanis dan Pembuatan RDF Teknologi Pembakaran Sampah Menjadi Energi (Waste-to-Energy Termal) Perbandingan Biaya, Kebutuhan Lahan, dan Risiko Penerapan Teknologi ← Anda membaca ini Kerangka Integratif: Mengapa Memilih Teknologi Saja Tidak Cukup? Analisis Ekonomi · CAPEX & OPEX · Perbandingan 9 Teknologi Berapa Sesungguhnya Biaya Mengolah Sampah? Dari Compost Bin Rp 100 Ribu hingga Insinerator Rp 6 Miliar per Ton Kapasitas Esai 5 dari 6  ·  ~18 menit baca  · Berdasarkan Kajian Resmi Bappenas–UNDP 2026 Ditulis dengan bantuan AI . Ditinjau & disunting profesional Ada sebuah pertanyaan yang hampir selalu muncul di setiap rapat perencanaan fasilitas pengolahan sampah, yaitu “kita sudah hitung total biayanya belum, termasuk operasional sepuluh tahun ke depan?” Banyak fasilitas yang berhasil dibangun justru gagal di tahun ketiga atau keempat bukan karena teknologinya rusak, melainkan karena model keuangannya tidak realistis sejak awal. Harga beli hanyalah titik awal. Yang menentukan keberlanjutan adalah biaya operasional harian, biaya tenaga kerja, biaya energi, biaya pemeliharaan, dan yang paling sering diabaikan adalah biaya pengelolaan residu. Di sisi lain, ada potensi pendapatan dari produk yang dihasilkan, seperti kompos, larva BSF, RDF, material daur ulang, hingga listrik. Dalam kasus terbaik, pendapatan ini bisa menutup sebagian besar biaya operasional. Dalam kasus terburuk, produk tidak terjual dan tumpukan di gudang menjadi biaya tambahan. Esai ini menyajikan gambaran komparatif dari sembilan teknologi yang telah dibahas dalam seri ini sebagai kerangka berpikir yang membantu pengambil keputusan mengajukan pertanyaan yang tepat sebelum komitmen anggaran dibuat. Catatan metodologi: Seluruh angka CAPEX, OPEX, dan kebutuhan lahan dalam esai ini bersumber dari kajian Bappenas–UNDP 2026 dan disajikan sebagai rentang indikatif untuk perbandingan konseptual (bukan sebagai angka desain atau rencana investasi yang tepat). Biaya sudah dikonversi ke IDR dan disesuaikan ke nilai estimasi tahun 2025. Biaya akuisisi lahan, perizinan, infrastruktur eksternal, pembiayaan, dan depresiasi tidak termasuk dalam angka CAPEX yang disajikan. Lapisan Biaya yang Harus Dipahami Penting untuk dipahami bahwa biaya pengolahan sampah terdiri dari tiga lapisan yang memiliki karakteristik sangat berbeda. IDR Biaya Modal (CAPEX) — Dibayar Sekali, Menentukan Skala Biaya investasi awal untuk peralatan, konstruksi, dan instalasi. Dinyatakan per ton per hari kapasitas terpasang.  Tidak termasuk lahan, perizinan, dan infrastruktur eksternal. /ton Biaya Operasional (OPEX) — Dibayar Setiap Hari Biaya untuk memproses setiap ton sampah, seperti tenaga kerja, listrik, bahan habis pakai, pemeliharaan rutin, dan penanganan residu. Tidak termasuk pembiayaan, depresiasi, dan transportasi ke offtaker. m² Kebutuhan Lahan — Sering Diremehkan dalam Perencanaan Dinyatakan dalam m² per ton per hari kapasitas. Di kota-kota Indonesia di mana lahan menjadi aset paling mahal dan langka, kebutuhan lahan adalah faktor pembatas yang seringkali baru disadari setelah desain sudah terlanjur ditentukan. Angka ini mencakup unit pengolahan utama dan fasilitas pendukung, tapi bukan untuk desain tata letak detail. Perbandingan 9 Teknologi Berikut adalah data komparatif lengkap dari kesembilan teknologi yang dievaluasi dalam kajian Bappenas–UNDP 2026. Kolom diurutkan dari teknologi paling sederhana hingga paling kompleks. Teknologi Kapasitas Lahan (m²/tpd) CAPEX (IDR/tpd) OPEX (IDR/ton) Compost Bin (CB) 0,3–30 kg/unit/hari 0,5–2 m²/unit 100 rb–10 jt/unit 50–1.500 rb/unit/tahun Open Windrow (OWC) 1–85 tpd 165–500 100–600 jt 90–500 rb Black Soldier Fly (BSF) 1–50 tpd 150–250 200–900 jt 20–350 rb Anaerobic Digestion (AD) 10–200 tpd 30–90 150–550 jt 280 rb–1,6 jt In-Vessel Composting (IVC) 30–100 tpd 35–265 250–800 jt 300–800 rb Mechanical Treatment (MT) 20–1.000 tpd 50–240 290–850 jt 125–640 rb Mechanical Biological Treatment (MBT) 150–850 tpd 60–250 400–660 jt 180 rb–1,2 jt Insinerasi WtE 100–3.000 tpd 35–100 1–6,4 miliar 450 rb–2,1 jt Gasifikasi WtE 240–1.000 tpd 30–70 700 jt–5,5 miliar 600 rb–2,5 jt tpd = ton per hari. IDR/tpd = IDR per ton kapasitas terpasang per hari. Sumber: Tabel 4, Kajian Bappenas–UNDP 2026. Angka rentang indikatif, disesuaikan ke nilai 2025. Tidak termasuk lahan, perizinan, dan infrastruktur eksternal. “Kapasitas fiskal dan model pembiayaan memainkan peran penting: analisis CAPEX, OPEX, dan potensi pendapatan harus digunakan untuk menilai potensi kemitraan, apakah KPBU, B2B, atau mekanisme lainnya.” — Kajian Penilaian Perbandingan Teknologi Pengolahan Sampah, Bappenas–UNDP 2026 Proses, Input, dan Pra-pengolahan Tabel berikut merangkum data ini dari dokumen kajian untuk seluruh sembilan teknologi. Perlu diperhatikan bahwa persyaratan pra-pengolahan yang berbeda memiliki implikasi biaya investasi tambahan yang sering tidak tercantum dalam proposal CAPEX teknologi itu sendiri. Teknologi Input / Feedstock Pra-pengolahan Alur Proses Utama Output Anaerobic Digestion (AD) Sampah makanan terpilah (organik basah). Sampah kebun lunak bisa sebagai bulking agent. Bisa dicampur pupuk kandang / lumpur tinja untuk tingkatkan aktivitas mikroba. Wajib: Pencacahan & penggilingan → slurry; pulping & dewatering untuk homogenisasi dan kontrol kadar padatan.Opsional: Pra-pengolahan termal, kimia, atau enzimatik untuk meningkatkan biodegradabilitas. Penerimaan → pulping → homogenisasi slurry → reaktor digester tertutup (tanpa O₂) → pengumpulan & pemanfaatan biogas → dewatering digestat → pematangan digestat Biogas (untuk memasak/listrik); digestat (perlu stabilisasi lanjutan sebelum diaplikasikan ke tanah) Compost Bin (CB) Sisa makanan & sampah kebun rumah tangga, terpilah dari sumber. Tidak untuk plastik, logam, atau B3. Minimal: Pencacahan kasar bahan keras (ranting); pencampuran material hijau (basah) dan coklat (kering) untuk rasio C:N optimal. Masukan organik ke wadah → penguraian aerobik → pengadukan berkala → pematangan 6–8 minggu → kompos siap pakai Kompos. Berfungsi sebagai mekanisme diverting di sumber, bukan pengolahan akhir skala besar. Open Windrow (OWC) Sampah makanan & kebun terpilah. Ranting dan dahan harus dicacah dahulu. Hindari kontaminasi plastik dan B3. Wajib: Pencacahan bahan keras (wood chipper/shredder); pemilahan manual kontaminan. Opsional: Pencampuran bahan struktural (sekam, serbuk gergaji) untuk perbaiki aerasi tumpukan. Penerimaan & pencacahan → penyusunan baris tumpukan (windrow) → pembalikan berkala (windrow turner/loader) → pemantauan suhu & kelembapan → pematangan → pengayakan → kompos Kompos sebagai pembenah tanah (soil conditioner). In-Vessel Composting (IVC) Sampah makanan terpilah, kandungan organik tinggi; biosolid bisa. Sampah kebun keras terbatas karena memperlambat proses dalam reaktor. Wajib: Pencacahan untuk ukuran seragam; pencampuran dengan bulking agent (sekam, woodchip) untuk pastikan aerasi merata

Kasad dukung pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan di Bali

[National] · Technology Ringkasan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan yang dikembangkan di Bali. Langkah ini merupakan komitmen untuk mengatasi permasalahan sampah sambil memanfaatkan sumber energi berkelanjutan. Dukungan dari institusi militer menunjukkan sinergi lintas sektor dalam mendorong praktik pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Inisiatif tersebut diharapkan dapat menjadi model bagi daerah-daerah lain dalam menerapkan ekonomi sirkular dan energi terbarukan. Summary The Army Chief of Staff (Kasad) has expressed full support for renewable energy-based waste management initiatives being developed in Bali. This step demonstrates a commitment to addressing waste challenges while utilizing sustainable energy sources. The support from the military institution reflects cross-sector synergy in promoting environmentally friendly waste management practices. The initiative is expected to serve as a model for other regions in implementing circular economy and renewable energy solutions. ───────────── Baca selengkapnya di: ANTARA News →

WMW | Energy from Waste: Kanadevia Inova acquires Dublin Waste to Energy facility

[International] · Technology Ringkasan Kanadevia Inova telah mengakuisisi fasilitas Waste to Energy di Dublin, memperkuat posisinya dalam industri pengolahan limbah dan produksi energi terbarukan. Akuisisi ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk mengembangkan teknologi konversi limbah menjadi energi di pasar Eropa. Fasilitas ini akan memungkinkan Kanadevia Inova untuk meningkatkan kapasitas pengolahan limbah sambil berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Langkah strategis ini sejalan dengan tren global menuju ekonomi sirkular dan solusi energi berkelanjutan. Summary Kanadevia Inova has acquired a Waste to Energy facility in Dublin, strengthening its position in the waste management and renewable energy production sector. This acquisition demonstrates the company’s commitment to expanding waste-to-energy conversion technology in the European market. The facility will enable Kanadevia Inova to increase waste processing capacity while contributing to greenhouse gas emission reduction. This strategic move aligns with global trends toward a circular economy and sustainable energy solutions. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →