Industry Voices: Extended Producer Responsibility in the US
[International] · Policy Ringkasan Extended Producer Responsibility (EPR) merupakan kebijakan penting yang menggeser tanggung jawab pengelolaan limbah produk dari konsumen kepada produsen di Amerika Serikat. Implementasi EPR mendorong industri manufaktur dan consumer goods untuk merancang produk yang lebih berkelanjutan dan dapat didaur ulang sejak tahap awal produksi. Pendekatan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Waste Indonesia dalam mempromosikan ekonomi sirkular dan mengurangi dampak lingkungan dari limbah kemasan dan produk konsumer. Suara-suara industri yang mendukung EPR menunjukkan pergeseran paradigma menuju tanggung jawab lingkungan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Summary Extended Producer Responsibility (EPR) represents a critical policy framework that transfers waste management accountability from consumers to manufacturers in the United States. EPR implementation encourages manufacturing and consumer goods industries to design more sustainable and recyclable products from the inception of production. This approach aligns with Sustainable Waste Indonesia’s commitment to promoting a circular economy and reducing environmental impacts from packaging and consumer product waste. Industry voices supporting EPR demonstrate a significant paradigm shift toward more comprehensive and sustainable environmental responsibility. ───────────── Baca selengkapnya di: Happi | Household And Personal Products Industry →
WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation
[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular menuntut perubahan paradigma industri pengelolaan sampah dari fokus optimisasi menuju ketahanan sistem. Dalam era pascapertumbuhan, perusahaan harus memprioritaskan resiliensi untuk menghadapi ketidakpastian dan keterbatasan sumber daya daripada hanya mengejar efisiensi maksimal. Pendekatan ini memungkinkan sektor sampah untuk berkontribusi lebih signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan melalui sistem yang adaptif dan tangguh. Transformasi ini menjadi kunci bagi Sustainable Waste Indonesia dalam membangun praktik pengelolaan sampah yang dapat bertahan jangka panjang. Summary The circular economy demands a paradigm shift in the waste management industry, moving from optimization-focused strategies toward building system resilience. In a post-growth era, companies must prioritize robustness to withstand uncertainty and resource constraints rather than pursuing maximum efficiency alone. This approach enables the waste sector to contribute more significantly to sustainable development through adaptive and durable systems. This transformation is essential for Sustainable Waste Indonesia to establish waste management practices capable of sustaining long-term viability. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →
Maine becomes first state to enact EPR for vapes
[International] · Policy Ringkasan Maine menjadi negara bagian pertama di Amerika Serikat yang menerapkan Extended Producer Responsibility (EPR) untuk produk vape. Kebijakan ini mewajibkan produsen dan importir vape untuk bertanggung jawab atas pengumpulan, pengelolaan, dan daur ulang produk mereka di akhir masa pakai. Langkah progresif ini mencerminkan komitmen untuk mengatasi limbah elektronik dari perangkat vape yang terus meningkat. Model EPR Maine diharapkan menjadi acuan bagi negara bagian lain dan mendorong industri untuk mengadopsi praktik manajemen limbah yang lebih berkelanjutan. Summary Maine has become the first U.S. state to implement Extended Producer Responsibility (EPR) for vaping products. This policy requires manufacturers and importers of vapes to take responsibility for the collection, management, and recycling of their products at end-of-life. This progressive measure reflects a commitment to addressing the growing electronic waste stream generated by vaping devices. Maine’s EPR model is expected to serve as a benchmark for other states and encourage the industry to adopt more sustainable waste management practices. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Dive →
New Hampshire waste policy evolving with disposal fee, organics ban
[International] · Policy Ringkasan New Hampshire sedang mengembangkan kebijakan pengelolaan sampah dengan menerapkan biaya pembuangan dan larangan terhadap limbah organik. Langkah ini merupakan bagian dari upaya negara bagian untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dan mendorong praktik pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Kebijakan baru ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengurangan sampah dan pemilahan limbah organik untuk didaur ulang menjadi kompos. Summary New Hampshire is evolving its waste management policy by implementing disposal fees and implementing a ban on organic waste. This initiative reflects the state’s commitment to reducing waste volume sent to landfills and promoting more sustainable waste management practices. The new policy is expected to raise public awareness about waste reduction and encourage the separation of organic waste for composting and recycling purposes. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Dive →
WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation
[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular menghadirkan tantangan fundamental bagi industri manajemen sampah yang selama ini berfokus pada optimisasi efisiensi dalam sistem pertumbuhan linier. Artikel ini menekankan perlunya pergeseran paradigma dari optimisasi menuju ketahanan sistem, mengingat keterbatasan sumber daya dan dampak lingkungan yang terus meningkat. Resiliensi menjadi kunci utama untuk membangun sektor manajemen sampah yang dapat beradaptasi dengan dinamika ekonomi pasca-pertumbuhan dan perubahan iklim. Transisi ini memerlukan inovasi kebijakan dan teknologi yang mendukung siklus material berkelanjutan daripada sekadar meningkatkan produktivitas. Summary The circular economy presents a fundamental challenge to the waste management industry, which has traditionally focused on efficiency optimisation within linear growth systems. The article emphasises the necessity of shifting from optimisation toward building system resilience, considering finite resources and mounting environmental impacts. Resilience becomes essential for developing a waste management sector capable of adapting to post-growth economics and climate change dynamics. This transition requires policy innovation and technology that supports sustainable material cycles rather than merely increasing productivity. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →
Waste to Watts: Ohio’s Green Energy Landfills
[International] · Technology Ringkasan Waste to Watts menampilkan transformasi inovatif tempat pembuangan sampah di Ohio menjadi sumber energi terbarukan yang berkelanjutan. Melalui teknologi penangkapan gas metana, fasilitas-fasilitas ini mengkonversi emisi berbahaya menjadi listrik bersih untuk ribuan rumah tangga. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana manajemen limbah modern dapat berkontribusi signifikan pada pengurangan emisi karbon dan transisi energi hijau. Studi kasus Ohio menjadi model inspiratif bagi komunitas lain dalam mengoptimalkan sumber daya limbah untuk keberlanjutan lingkungan. Summary Waste to Watts showcases the innovative transformation of Ohio’s landfills into sustainable renewable energy sources. Through advanced methane gas capture technology, these facilities convert harmful emissions into clean electricity powering thousands of households. This initiative demonstrates how modern waste management can significantly contribute to carbon emission reduction and green energy transition. Ohio’s case study serves as an inspiring model for other communities seeking to optimize waste resources for environmental sustainability. ───────────── Baca selengkapnya di: ArcGIS StoryMaps →
California legislature advances key waste, recycling bills
[International] · Technology Ringkasan Legislatur California telah memajukan beberapa undang-undang penting yang berkaitan dengan manajemen limbah dan daur ulang. Langkah ini menunjukkan komitmen negara bagian terhadap pengurangan limbah dan peningkatan praktik keberlanjutan. Undang-undang yang diajukan diharapkan dapat memperkuat infrastruktur daur ulang dan mengurangi dampak lingkungan dari limbah konsumen. Inisiatif ini sejalan dengan target California untuk mencapai ekonomi sirkular yang lebih baik. Summary The California legislature has advanced several key bills focused on waste management and recycling initiatives. This development demonstrates the state’s commitment to waste reduction and sustainable practices. The proposed legislation is expected to strengthen recycling infrastructure and minimize environmental impacts from consumer waste. These initiatives align with California’s broader goals of establishing a more circular economy. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Dive →
WMW | Circular Economy: Waste management’s post-growth reckoning: Why resilience must replace optimisation
[International] · Technology Ringkasan Ekonomi sirkular memerlukan perubahan paradigma fundamental dalam industri manajemen limbah, melampaui fokus tradisional pada optimasi efisiensi. Dalam era pertumbuhan ekonomi yang terbatas, ketahanan sistem (resilience) menjadi prioritas utama dibandingkan dengan peningkatan output semata. Pendekatan ini menekankan pentingnya membangun infrastruktur limbah yang adaptif dan berkelanjutan untuk menghadapi ketidakpastian global. SWI berkomitmen untuk mendorong transformasi menuju model ekonomi sirkular yang memprioritaskan ketahanan lingkungan dan sosial jangka panjang. Summary The circular economy demands a fundamental paradigm shift in waste management, transcending the traditional focus on efficiency optimization alone. In an era of constrained economic growth, building system resilience emerges as a critical priority over mere output maximization. This approach emphasizes the need for adaptive and sustainable waste infrastructure capable of withstanding global uncertainties. SWI is committed to advancing the transition toward a circular economy model that prioritizes long-term environmental and social resilience. ───────────── Baca selengkapnya di: Waste Management World →
Kemasan Makanan dan Minuman Menjadi Sampah Terbanyak Kedua di Pantai
[International] · Policy Ringkasan Kemasan makanan dan minuman telah menjadi jenis sampah terbanyak kedua yang ditemukan di area pantai, mengindikasikan tingginya kontribusi sektor konsumsi terhadap pencemaran laut. Sampah kemasan ini, yang mayoritas terdiri dari plastik sekali pakai, mencerminkan kebiasaan konsumsi masyarakat dan kurangnya sistem pengelolaan limbah yang efektif di pesisir. Permasalahan ini menuntut perhatian serius dari berbagai stakeholder, mulai dari produsen, konsumen, hingga pemerintah untuk mengimplementasikan solusi berkelanjutan. Upaya pengurangan sampah kemasan melalui edukasi, inovasi produk ramah lingkungan, dan infrastruktur daur ulang menjadi kunci dalam mengatasi krisis pencemaran pantai ini. Summary Food and beverage packaging has become the second largest type of waste found in coastal areas, indicating a significant contribution from the consumption sector to marine pollution. These packaging waste items, predominantly consisting of single-use plastics, reflect consumer habits and the inadequacy of waste management systems in coastal regions. This issue demands serious attention from multiple stakeholders, including manufacturers, consumers, and government bodies, to implement sustainable solutions. Reducing packaging waste through public education, development of eco-friendly products, and improved recycling infrastructure are essential strategies to address this coastal pollution crisis. ───────────── Baca selengkapnya di: National Geographic Indonesia →
Waste to Watts: Ohio’s Green Energy Landfills
[International] · Technology Ringkasan Proyek “Waste to Watts” di Ohio menunjukkan inovasi berkelanjutan dalam mengelola limbah dengan mengubahnya menjadi energi hijau. Teknologi penangkapan gas metana dari tempat pembuangan akhir (TPA) memungkinkan konversi limbah organik menjadi listrik terbarukan yang dapat didistribusikan ke komunitas lokal. Inisiatif ini mencerminkan komitmen terhadap ekonomi sirkular dan pengurangan emisi gas rumah kaca secara signifikan. Model sukses Ohio dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam mengembangkan infrastruktur pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Summary The “Waste to Watts” project in Ohio demonstrates a sustainable innovation in waste management by converting waste into green energy. Advanced methane gas capture technology from landfills enables the conversion of organic waste into renewable electricity that can be distributed to local communities. This initiative reflects a commitment to circular economy principles and significant greenhouse gas emission reductions. Ohio’s successful model can serve as a reference for Indonesia in developing environmentally friendly waste management infrastructure. ───────────── Baca selengkapnya di: ArcGIS StoryMaps →